INDUSTRI OTOMOTIF: Baterai Jadi Kendala Utama Motor Listrik di Indonesia

06 September 2016 14:45 WIB Otomotif Share :

Industri otomotif perlu persiapan sebelum memproduksi sepeda motor listrik.

Solopos.com, JAKARTA – Pemerintah berharap sepeda motor listrik bisa populer di Tanah Air pada 2025 mendatang. Tetapi untuk harapan itu bisa tercapai para pelaku industri otomotif harus bisa mengatasi sejumlah kendala utama seperti baterai.

Direktur Sarana Perhubungan Darat Kemenhub, Carlo Manik mengatakan kendala pertama adalah belum adanya stasiun pengisian daya sepeda motor listrik. Menurutnya jangan sampai sepeda motor listrik sudah beredar namun belum ada infrastrukturnya.

“Kendala kalau hendak mengembangkan kendaraan listrik itu pertama, infrastruktur berupa charging unit terutama di tempat umum, perkantoran, dan permukiman belum tersedia,” ungkap Carlo seperti dilansir laman Okezone, Senin (5/9/2016).

Charging unit tersebut, lanjut Carlo, juga harus dibuat supaya bisa mengisi daya baterai sepeda motor listrik dengan cepat. Berbicara baterai, komponen itulah yang menjadi kendala kedua karena ongkos produksinya masih cukup tinggi sehingga memengaruhi harga jual motor.

“Kalau lebih murah dan lebih tahan lama, siapa yang enggak mau punya kendaraan listrik. Tapi saat ini harga masih lebih mahal dibanding kendaraan konvensional,” imbuhnya.

Carlo menambahkan kendala ketiga juga masih pada hal baterai. Menurutnya usia pakai baterai sepeda motor listrik sangat terbatas. Hal itulah yang mungkin akan menjadi faktor keraguan konsumen untuk beralih dari kendaraan konvensional.

“Umur pemakaian baterai relatif pendek. Jadi kalau di-charging hanya sekira 1.000 sampai 2.000 kali saja atau sama dengan tiga tahun. Mungkin nanti harus diperhitungkan ada penukaran baterai atau lain sebagainya, baru dipergunakan kendaraan listrik ini,” papar Carlo.

Sebelumnya PT Garansindo, industri otomotif yang memproduksi skuter matik (skutik) Gesits mengatakan baterai pada produknya akan dibuat di dalam negeri oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja sehingga bisa lebih terjangkau.