Safety & Defensive Riding, Apa Itu?

Kegiatan Safety Riding yang diselenggarakan Astra Motor Jateng (Astra Motor Jateng)
25 Mei 2018 13:25 WIB Muhammad Rizal Fikri Otomotif Share :

Solopos.com, SOLO – Di bulan Ramadan ini Astra Motor Jawa Tengah (Jateng) memberikan pelatihan safety riding berkendara #Cari_Aman dengan fokus Smart Riding dan Defensive Riding. Beberapa perusahaan dan sekolah berkesempatan mendapatkan ilmu tersebut. Astra Motor Jateng memberi pelatihan Safety Riding edisi spesial ramadan di PT Liebra Permana, Wonogiri; PT Sri Rejeki Isman atau Sritex Sukoharjo; dan SMK Ganesha Tama, Boyolali.

Dikutip dari rilis dari Astra Motor Jateng yang diterima Solopos.com, Rabu (23/5/2018), puasa Ramadan tak bisa dipungkiri akan menguras stamina dan tenaga mereka yang berpuasa. Menurut Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng, Oke Desiyanto, kondisi tersebut bisa menyebabkan konsentrasi terganggu dan kemungkinan pusing. Untuk mengatasi hal tersebut bisa mengaplikasikan Smart Riding dan Defensive Riding.

Smart Riding adalah berkendara dengan cerdas. Salah satunya mempersiapkan perjalanan, sahur dengan gizi yang cukup dan konsumsi air putih yang cukup,” ungkap Oke seperti diungkap dalam rilis yang diterima Solopos.com. Selain itu, smart riding termasuk melakukan pengecekan sepeda motor sebelum digunakan. Tak cukup sampai di situ, pengendara juga harus memakai jaket, helm, sarung tangan, celana panjang, dan sepatu.

Apabila smart riding cenderung ke persiapan sebelum bekrendara, maka defensive riding adalah sikap yang dianjurkan saat mengendarai sepeda motor. Oke menjelaskan defensive riding adalah cara berkendara yang menahan diri danberusaha untuk tidak reaktif menuruti emosi belaka. Pengendara defensive riding akan cari aman, bersabar, dan konsentrasi.

Salah satu pegawai Sritex Sukoharjo, Slamet Feriyanto, menganggap pelatihan yang diselenggarakan Astra Motor Jateng sangat bermanfaat bagi karyawan. Penyampaian materi jelas, bisa dipahami dan dimengerti. Hal serupa juga diungkap salah satu pegawai SMK Ganesha Tama, Boyolali, Arwan Dwi.


“Pelatih mudah dipahami, cara menyampaikan materi menarik. Alat yang digunakan pun lengkap sesuai kebutuhan,” jelas Arwan.