Wuling Targetkan Kuasai Pasar MPV

Salah satu produk Wuling dipamerkan di dealer Wuling Motor di Kartasura, Kamis (19/7 - 2018). (Solopos/Bayu Jatmiko Adi)
20 Juli 2018 11:00 WIB Bayu Jatmiko Adi Otomotif Share :

Solopos.com, SUKOHARJO – Memasuki satu tahun pemasaran produk di Indonesia, Wuling menargetkan menguasai pasar MPV dalam empat tahun mendatang. Mengandalkan dua produk andalan Confero dan Cortez, Wuling optimistis dapat mencapai target tersebut. 

Sales Supervisor PT Automobil Jaya Mandiri, Sudarmadji, mengatakan Agustus tahun lalu Wuling telah meluncurkan produk Confero di pasar nasional. Sedangkan produk Cortez diluncurkan pada Februari lalu. "Kami memang benar-benar ingin menyerap pasar yang selama ini sudah dikuasi oleh MPV merek lain sebelumnya," kata dia saat ditemui Solopos.com di kantornya, Kamis (19/7/2018).

Sudarmadji mengatakan di tahun kedua, produk tersebut diharapkan sudah dapat merebut hati masyarakat pencinta MPV di Indonesia termasuk Solo dan sekitarnya. "Selanjutnya kami bisa menjadi yang terdepan. Kami ditargetkan bisa menguasai pasar MPV di Indonesia pada tahun keempat," kata dia.

Disebutkannya, saat ini Wuling sudah memproduksi sekitar 120 unit per hari secara nasional. Kemudian untuk PT Automobil Jaya Mandiri menargetkan tahun ini menjual 3.000 unit dalam setahun di Jawa Tengah. Jumlah tersebut diharapkan naik 10% per tahunnya. Untuk Solo dan sekitarnya saat ini sudah menyerap 20-25 unit per bulan.

Sementara untuk pelayanan perawatan, PT Automobil Jaya Mandiri menargetkan ada 19 diler. "Saat ini sudah 13 diler. Solo sebentar lagi akan kami buka di Kleco," kata dia. Dia mengatakan untuk wilayah Solo dan sekitarnya ditargetkan ada tiga diler yang nantinya bisa melayani pelanggan. Sedangkan untuk daerah lain seperti Yogyakarta, Semarang, Purworejo, Purwokerto, Pekalongan, juga sudah tersedia diler untuk melayani masyarakat.

Dia menyebutkan, secara umum produk Wuling memiliki kualitas lebih unggul dibandingkan produk merek lain di kelasnya. Bahkan dia mengklaim Wuling juga memiliki produk dengan harga yang lebih rendah ketimbang produk lain di kelasnya. "Hal itu terjadi karena produksi saat ini sudah dilakukan di Indonesia. Pabrik dan supplier park sudah terintegrasi dalam satu kawasan sehingga biaya produksi dan distribusi bisa ditekan," kata dia.