Pembalap Indonesia Dimas Ekky Dipastikan Berlaga di Moto2 2019

Dimas Ekky Pratama, pembalap Indonesia yang akan berlaga di GP Moto 2 2019. (Istimewa)
20 November 2018 04:00 WIB Ginanjar Saputra Otomotif Share :

Solopos.com, JAKARTA — Pembalap sepeda motor asal Indonesia, Dimas Ekky Pratama, dipastikan akan berlaga di Grand Prix (GP) Moto2 2019 selama satu musim penuh. Pembalap binaan PT Astra Honda Motor (AHM) itu menjadi satu-satunya pembalap Indonesia yang bertarung di ajang balap tingkat dunia ini.

Pada GP Moto2 2019, Dimas dipilih sebagai pembalap andalan Idemitsu Honda Team Asia, mewakili bakat-bakat terbaik dari belahan bumi Asia. Idemitsu Honda Team Asia merupakan tim balap yang berpengalaman di ajang balap sepeda motor.

Pembalap berjuluk Red Forehead tersebut dianggap sudah pantas naik kelas dengan prestasi dan sederet gelar sudah ditorehkannya, termasuk menjadi juara di ajang Suzuka 4 Hours Endurance Race, juara Asia Road Racing Championship yang digelar di Sentul tahun lalu, hingga mengibarkan bendera Merah Putih untuk kali pertama di ajang CEV Moto2 European Championship dengan berdiri di podium ketiga pada seri Catalunya 2017.

Saat ini, pemilik nomor motor 20 itu sedang berlaga di CEV Moto2 European Championship, salah satu ajang tolok ukur pebalap berbakat dunia, khususnya di Eropa. Di CEV Moto2 European Championship, Dimas bernaung di bawah Astra Honda Racing Team (AHRT).

Berkiprahnya Dimas di GP Moto2 juga menjadi salah satu indikator suksesnya AHRT sebagai tempat penggemblengan pembalap muda berbakat binaan AHM.

Di CEV Moto2 European Championship musim 2018, Dimas bertengger di posisi keenam klasemen sementara dengan koleksi 70 poin setelah berhasil finis keempat di seri Jerez, 30 September 2018 lalu. Ajang ini masih menyisakan dua seri, yakni di Albacete dua balapan, dan di Valencia satu balapan.

Tampilnya pebalap asal Depok, Jawa Barat (Jabar) di ajang balap setingkat di bawah MotoGP ini menjadi sejarah baru pembinaan balap berjenjang yang dilakukan AHM. Proses yang secara konsisten dilakukan AHM ini memasuki fase baru dengan menemani pembalap binaannya berlaga semusim penuh di kejuaraan dunia, untuk mengejar prestasi lebih baik demi mengharumkan bangsa dan membuat bangga.

Direktur Pemasaran AHM, Thomas Wijaya, mengatakan pencapaian Dimas Ekky itu merpakan bukti program penjenjangan balapan terstruktur yang dilakukan perusahaan semakin membuahkan prestasi yang menjadi kebanggaan untuk bangsa Indonesia.

"Selamat untuk Dimas yang mampu menapakkan kaki ke GP Moto2 dengan setiap usaha kerja keras dan kerja sama. Kami berharap Dimas dapat terus berjuang maksimal dengan mental juara, untuk selalu menciptakan masterpiece, dan konsisten menginspirasi pebalap muda Indonesia lainnya untuk meraih mimpi berlaga di ajang kelas dunia," ujar Thomas seperti dikutip pada siaran pers yang diterima Solopos.com.

Sementara bagi Dimas, kesempatan emas berlaga di GP Moto2 akan dimanfaatkannya sebagai salah satu tangga untuk mencapai mimpi tertinggi, yakni berlaga di balapan sepeda motor paling bergengsi, MotoGP. Dirinya sadar, bahwa perjuangan di level lebih tinggi tidak akan mudah.

"Dapat tampil di GP Moto2 merupakan kesempatan berharga yang sangat saya nantikan. Tentunya tantangan yang dihadapi akan sangat berbeda baik dari segi mesin, motor, maupun persaingan ketat kompetisinya. Sekuat tenaga saya akan berusaha memberikan prestasi terbaik demi nama harum bangsa Indonesia. Pengalaman mengikuti pembinaan berjenjang AHM akan menjadi modal penting untuk mengarungi musim balap GP Moto2 di tahun depan," kata Dimas.

Pada tahun pertamanya di GP Moto2, Dimas menargetkan dapat cepat beradaptasi dan memberikan performa terbaiknya untuk mencetak banyak poin. Pasalnya, menjinakkan sepeda motor Moto2 bukan hal yang pertama bagi Dimas.

Dia sudah pernah mencicipi atmosfer ketat balapan ajang ini sebanyak dua kali. Pertama, saat menggantikan Jorge Navarro di tim Federal Oil Gressini Racing pada GP Malaysia 2017 dan tampil sebagai pembalap wildcard di GP Catalunya pada 2018.

Kendati demikian, musim 2019 akan jauh berbeda. Hampir semua regulasi teknis berubah total, termasuk penggunaan mesin baru. Kondisi ini akan menjadi tantangan terbesar, tak hanya bagi Dimas, tetapi juga pebalap lain di level ini.