Bingung dengan Keganjilan Mobil Esemka, Begini Analisis Cerdas Ridwan Hanif

Pekerja di depan deretan mobil di pabrik Esemka, Sambi, Boyolali, Senin (22/10 - 2018). Pabrik telah memproduksi jenis mobil pikap. (Antara / Aloysius Jarot Nugroho)
25 Oktober 2018 06:10 WIB Jafar Sodiq Assegaf Otomotif Share :

Solopos.com, SOLO - Pakar otomotif Ridwan Hanif turut menanggapi informasi mengenai bakal diluncurkannya mobil nasional Esemka. Managing Editor Autonetmagz.com ini mengungkap sejumlah hal menarik tentang proses produksi mobil Esemka ini.

Hal tersebut disampaikan Ridwan Hanif saat menjadi narasumber di acara Talk Show Tv One, pada Senin (22/10/2018). Pada kesempatan itu, Ridwan Hanif mempertanyakan soal kejelasan perusahaan mobil Esemka.

Sebagai pakar otomotif Ridwan Hanif mengaku bingung mencari informasi soal mobil Esemka. Pasalnya menurut Hanif perusahaan yang memproduksi mobil Esemka tidak jelas. "Pabrikkan harus kePR nya (publik relation), websitenya enggak ada, direkturnya enggak ada, sama seperti TV One, kitapun mencari narasumber enggak tahu kemana," katanya.

Pria yang populer sebagai reviewer gadget dan barang-barang otomotif di Youtube ini mengaku pernah berusaha mencari sosok kredibel yang bisa ia mintai keterangan soal mobil Esemka. Namun hasilnya nihil.

"Saya harap pihak Esemka nonton ini, setelah itu dijelaskan," ujar Ridwan Hanif. "Kalau ada perntanyaan soal Esemka tahu koridornya kemana, jangan dibikin liar seperti ini," tambahnya.

Bukan hanya soal pabrik, Ridwan Hanif juga menyoroti informasi mengenai mobil ini yang justru banyak dikeluarkan oleh politisi. Menurutnya, hal ini tidak umum dilakukan pabrikan-pabrikan otomotif lain.

Hal lain yang cukup menggelitik adalah soal proses pembuatan. Menurutnya ada yang ganjil jika mobil Esemka disebut akan diproduksi besar-besaran Oktober.

Pasalnya menurut Ridwan Hanif mobil Esemka sebelumnya tidak pernah mengikuti pameran otomotif dimanapun. Hal tersebut merupakan sesuatu yang buruk secara bisnis, karena mobil Esemka tak dikenal secara luas oleh publik.

"Makanya saya ngeliat Esemka ini agak aneh, pameran belum ikut, tiba-tiba suprise," kata Ridwan Hanif.

Ridwan Hanif dalam pernyataan penutupnya mengatakan pemerintah tak usah merasa minder apabila memang belum bisa memproduksi mobil nasional. Menurut Ridwan Hanif Indonesia sudah terlalu tertinggal dari negara lain dalam dunia otomotif.

Ridwan Hanif juga menegaskan, Indonesia tak butuh mobil nasional, karena masih memiliki hal lain yang bisa dibanggakan.

"Kita engga butuh banget mobil. Kita engga usah malu, kita punya yang lain. Jadi kenapa kita harus iri sama negara lain?" pungkas Ridwan yang sebelumnya menyebutkan PT Inka mampu memproduksi Kereta Api hingga BJ. Habiebie yang bisa memproduksi pesawat.

Versi Jokowi

Kabar produksi mobil Esemka kembali mencuat setelah terlihatnya aktivitas di pabrik milik PT Solo Manufaktur Kreasi di Sambi, Boyolali.

Namun, saat ditanya soal kabar produksi Esemka, Presiden Jokowi menyatakan tidak pernah campur tangan. Dia mengatakan bahwa pembuatan mobil Esemka murni dikerjakan oleh industri yang didirikan oleh swasta.

"Itu urusan orang industri. Urusan saya apa dengan produksi Esemka? Tidak ada urusan pemerintah," kata Presiden Jokowi seusai menghadiri pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-33 di Indonesia Convention Exhibition, Tangerang, Banten, Rabu (24/10/2018).

Menurut Jokowi, saat masih menjabat sebagai Wali Kota Solo, dirinya mendorong mobil kreasi anak-anak SMK yang dibantu oleh teknisi perusahaan besar. Pemerintah terus mendorong produk lokal, seperti mobil Esemka, untuk maju dengan uji emisi dan uji laik jalan.

"Tugas pemerintah hanya itu. Setelah jadi, ya diserahkan kepada industri, mau diproduksi atau tidak produksi, ya bukan urusan kita lagi," jelas Presiden.

Sebelumnya, Calon Wakil Presiden nomor urut 01 Maruf Amin menyebut mobil Esemka yang pernah dirintis Joko Widodo (Jokowi) akan diluncurkan pada Oktober mendatang. "Bulan Oktober nanti akan diluncurkan mobil nasional bernama Esemka, yang dulu pernah dirintis oleh Pak Jokowi. Akan diproduksi besar-besaran," kata Ma'ruf Amin dikutip Solopos.com dari Antara, Rabu (24/10/2018).